SOSIALISASI INOVASI SURIP

Tanggal : 30-Aug-2022 09:40 oleh todanan - dibaca : 81 Kali

Kinerja karyawan menjadi fokus utama bagi suatu Puskesmas sebagai tolak ukur dalam menentukan keberhasilan. Keberhasilan organisasi salah satunya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Kinerja karyawan dapat menggambarkan hasil pekerjaan yang dilakukan baik secara kualitas dan kuantitas seperti yang diharapkan Puskesmas. Mencapai kemakmuran suatu Puskesmas salah satunya dilakukan dengan meningkatkan kinerja karyawan secara berkala kemudian akan mempengaruhi kinerja Puskesmas secara keseluruhan. Peningkatan kinerja diharapkan tercapai secara keseluruhan dari sekumpulan elemen atau langkah yang ada supaya lebih baik dari sebelumnya demi tercapainya optimalisasi kinerja. Peningkatan kinerja terjadi jika karyawan merasakan kepuasan dari pekerjaan yang dilakukan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti motivasi kerja yang baik, kemampuan diri dibarengi dengan disiplin dalam bekerja dan lingkungan kerja yang mendukung. Oleh karena itu jika salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja tidak dimiliki oleh karyawan bahkan Puskesmas tidak mendukung maka kinerja karyawan akan menurun seiring berjalannya waktu. Sumber berita dari media elektronik lainnya dari (CNN Indonesia, 2021) mengatakan bahwa selama masa pandemic Covid-19 banyak puskesmas yang mengalami penurunan mutu pelayanan kesehatan dikarenakan banyaknya pasien sehingga beban kerja semakin bertambah yang menimbulkan kelelahan kerja berdampak terhadap penurunan kinerja. Jika keadaan seperti itu terjadi secara berkepanjangan bahkan pandemic dapat menyebabkan stress kerja sehingga pelayanan kesehatan tidak optimal akan mempengaruhi kinerja seluruh tenaga kesehatan. Puskesmas Todanan selalu berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat sekitar sesuai dengan visinya “Mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat di sekitar wilayah Todanan”. Maksud dari visi ialah memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat dengan sepenuh hati agar masyarakat sehat dan bebas penyakit terlebih di wilayah Kecamatan Todanan karena puskesmas dijadikan layanan kesehatan pertama yang dihadirkan. Namun berdasarkan observasi yang dilakukan diungkapkan bahwa beberapa masyarakat yang melakukan pemeriksaan dan penerima layanan kesehatan lainnya masih menganggap pelayanan yang diberikan pihak puskesmas belum optimal ditambah dengan beberapa kritik yang dilayangkan pasien baik secara langsung maupun melalui online terhadap pelayanan. Diperlukan peningkatan kinerja yang dilakukan oleh manajemen puskesmas bagi seluruh karyawan guna menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, salah satu caranya dengan melakukan stimulus kinerja bagi karyawan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan puskesmas dapat dilihat dari penilaian SKP (Sasaran Kerja Pegawai) sebagai penilaian kerja karyawan dalam kurun waktu satu tahun bekerja. Data capaian SKP karyawan berisi beberapa indikator yang digunakan untuk mengisi penilaian kinerja seperti kehadiran karyawan, kualitas, kuantitas, waktu, dan biaya disertai dengan target yang ditentukan selama kurun waktu satu tahun serta bagaimana wujud realisasi pelaksanaan dari target kerja yang sudah ditetapkan. Penilaian kinerja pegawai tahun 2019-2020 sesuai pada Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2019 mengenai Penilaian Kinerja Pegawai yang diuraikan dalam berbagai rentang penilaian. Berdasarkan tahap observasi yang dilakukan beasaran nilai SKP karyawan di puskesmas tahun 2019 berada di rentang 70-89 berkategori cukup. Sedangkan pada tahun 2020 berdasarkan data yang diperoleh besaran nilai capaian SKP karyawan sebesar 70-89 berpredikat cukup sama seperti tahun sebelumnya sehingga tidak terjadi peningkatan capaian kinerja. Capaian SKP Puskesmas Todanan dari tahun 2019 menuju tahun selanjutnya yaitu tahun 2020 masih dibawah target kerja yang seharusnya capaian SKP mengalami peningkatan di rentang nilai 90-120 dengan sebaran sebesar 100% pada tenaga kerja berstatus ASN (Aparatur Sipil Negara) sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan di puskesmas. Selain itu capaian SKP ditahun terakhir belum tersedia sehingga masih terjadi bias penilaian kinerja bagi karyawan. Sedangkan untuk karyawan bertatus Non ASN (Non Aparatur Sipil Negara) tidak mengisi SKP sehingga tidak mengetahui ketercapaian kinerjanya setiap periode berdasarkan predikat nilai tertentu yang menimbulkan ambiguitas kinerja. Menilai kinerja karyawan tidak hanya dilihat dari sudut pandang penilaian SKP karyawan, namun dapat dilihat dari persentase kehadiran dan absensi cuti selama satu tahun terakhir. Keadaan demikian akan mengarah terhadap kinerja karena karyawan menjunjung tinggi rasa tanggung jawab sehingga berusaha meninimalisir ijin kerja untuk meningkatkan kinerja (Razak et al., 2018). Berdasarkan data ijin kerja yang diambil oleh karyawan masih tergolong batas normal karena nilai persentase tertinggi berada di kisaran 10% dari total seluruh karyawan puskesmas sehingga hanya sedikit karyawan yang mengambil ijin kerja. Selain ijin kerja untuk mengetahui pengaruh kinerja dapat dilihat dari persentase cuti karyawan selama satu periode terakhir. Berdasarkan observasi persentase absensi cuti bergerak fluktuatif setiap bulannya dimulai bulan pertama karyawan mengambil cuti hanya berjumlah 8 karyawan, namun dibulan selanjutnya mengalami peningkatan sebanyak 7 karyawan. Puncak peningkatan cuti kerja meningkat terjadi pada bulan April 2021 sebanyak 36 karyawan, tentunya dengan banyaknya pengambilan cuti secara serempak di bulan yang sama akan mempengaruhi kinerja puskesmas secara keseluruhan dan dikhawatirkan puskesmas sebagai layanan kesehatan kekurangan tenaga kerja yang menghambat mekanisme kerja di bulan tersebut bahkan program dasar yang akan dikerjakan dibulan berikutnya. Oleh karena itu belum terjadi keseimbangan antara kehidupan dengan pekerjaan yang dijalani dapat menganggu fokus capaian kinerja. Kinerja tenaga kesehatan puskesmas belum begitu optimal dan dalam rangka meningkatkan kinerja pemerintah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat untuk mewujudkan visi “Sesarengan mBangun Blora Unggul dan Berdaya Saing” dan pada misi “Mewujudkan Birokrasi yang Profesional, Progresif, Bersih dan Akuntabel”, maka perlu kinerja karyawan masih perlu ditingkatkan. Selain itu data absensi cuti mengalami pergerakan yang fluktuatif pada periode tahun 2021 yang dapat mempengaruhi penurunan kualitas kinerja sehingga belum tercipta secara maksimal dan optimal. Masih terdapat perbedaan hasil sehingga memerlukan upaya lebih lanjut untuk mengetahui motivasi kerja, efikasi diri dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan. Melalui inovasi SURIP atau survei internal pelanggan, dapat membantu mengetahui feedback/umpan balik dari karyawan atas kinerja/kualitas pelayanan yang dilakukan sehingga dapat digunakan untuk perbaikan/peningkatan kinerja/kualitas Puskesmas secara berkesinambungan.

Bagikan Ke Teman :