SOSIALISASI INOVASI PACARE

Tanggal : 30-Aug-2022 10:13 oleh todanan - dibaca : 151 Kali

Sejak kasus COVID-19 ditemukan pertama kali di Wuhan pada Desember 2019, Indonesia mencatat dua kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Hingga akhir Desember 2020, kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 743.198 kasus konfirmasi dengan angka 8.074 kasus baru per hari, dengan jumlah mortalitas akibat COVID-19 adalah sebesar 22.138 kasus. Angka kesembuhan Indonesia tercatat 82,2%, namun di sisi lain angka kematian (Case Fatality Rate) Indonesia 2,97%, di mana angka tersebut masih tetap di atas rata-rata kematian global sebesar 2,16%. Tenaga medis, memiliki peran yang sangat penting dalam memerangi wabah virus Corona (Covid-19) yang tengah melanda Indonesia. Peran tenaga kesehatan, menempati posisi kunci dalam upaya memberikan layanan kesehatan secara optimal kepada masyarakat yang membutuhkan. Mereka jugalah, yang harus berhadapan langsung dengan pasien terjangkit virus covid-19 dari jarak yang sangat dekat. Untuk itu, para tenaga medis merupakan orang yang paling rentan tertular virus ini. Karena risikonya yang sangat tinggi, para tenaga medis perlu mengetahui dan terus menerapkan prosedur protokol tertentu guna menlindungi diri dan mencegah tertular virus covid-19. Prosedur dan protokol yang harus ditaati petugas medis agar tidak tertular virus corona (Covid-19) adalah kewaspadaan standar merupakan hal yang harus diterapkan di semua fasilitas pelayanan kesehatan. Hal tersebut dimaksudkan, guna memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi semua pasien dan mengurangi risiko infeksi lebih lanjut baik bagi pasien maupun tenaga medis. Kewaspadaan standar meliputi kebersihan tangan, dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk menghindari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, sekret (termasuk sekret pernapasan) dan kulit pasien yang terluka. Pada perawatan rutin pasien, penggunaan APD harus berpedoman pada penilaian risiko atau antisipasi kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi dan kulit yang terluka. Tenaga medis wajib mengenakan APD sekali pakai yang meliputi, baju pelindung khusus, sarung tangan, masker, dan pelindung mata. Alat pelindung ini hanya bisa sekali pakai, sehingga tenaga medis harus melepas dan membuangnya setelah keluar dari ruang perawatan atau bersinggungan dengan pasien. Pada pemilihan APD yang tepat, perlu mengidentifikasi potensial paparan penularan yang ditimbulkan serta memahami dasar kerja setiap jenis APD yang akan digunakan di tempat kerja dimana potensial bahaya tersebut mengancam pada petugas kesehatan di Puskesmas. Prinsip yang harus dipenuhi dalam pemilihan APD: •     Harus dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahaya yang dihadapi (Percikan, kontak langsung maupun tidak langsung). •     Berat APD hendaknya seringan mungkin, dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan. •     Dapat dipakai secara fleksibel (reuseable maupun disposable) •     Tidak menimbulkan bahaya tambahan. •     Tidak mudak rusak. •     Memenuhi ketentuan dari standar yang ada. •     Pemeliharaan mudah. •     Tidak membatasi gerak. Penggunaan APD sesuai indikasi dengan mempertimbangkan: a.       Risiko terpapar Alat pelindung diri digunakan oleh orang yang berisiko terpajan dengan pasien atau material infeksius seperti tenaga kesehatan, petugas kebersihan, petugas instalasi sterilisasi , petugas laundri dan petugas ambulans di Fasyankes. b.      Dinamika transmisi. 1)      Transmisi penularan COVID-19 ini adalah droplet dan kontak. 2)      Transmisi airborne bisa terjadi pada tindakan yang memicu terjadinya aerosol seperti intubasi trakea, ventilasi non invasive, trakeostomi, resusitasi jantung paru, ventilasi manual sebelum intubasi, nebulasi dan bronskopi, pemeriksaan gigi seperti scaler ultrasonic dan high-speed air driven, pemeriksaan hidung dan tenggorokan, pengambilan swab. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, pemegang program PPI memunculkan gagasan/ide inovasi PACARE (Pencegahan Penularan Covid-19 dengan Pemilahan Area) yang bertujuan untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan dapat menjadi acuan bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di dalam fasilitas pelayanan kesehatan serta dapat melindungi masyarakat dan mewujudkan patient safety yang pada akhirnya juga akan berdampak pada efisiensi pada manajemen fasilitas pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan.

Bagikan Ke Teman :